Senin, 03 Juni 2013

Film " Sang Kyai "

Saatnya Islam harus kembali pada nilai sebenarnya. Film ini mengajak para penganut Islam utk terus menegakan kebenaran berdasarkan KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB... serta selalu memperjuangkan KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA... melalui sikap kritis dan konstruktif bagi KERAKYATAN YG DIPIMPIN OLEH HIKMAT KEBIJAKSANAAN DALAM PERMUSYAWARATAN PERWAKILAN... abaikan perbedaan suku ras dan agama dalam jiwa nasionaliseme untuk menggalang PERSATUAN INDONESIA yang tentunya dengan ruh dan jiwa yang berKETUHANAN YANG MAHA ESA.

:: Cuplik.Com | Kesenian Film | Film Sang Kiai: Bukti Militansi Kaum Santri ::

Film Sang Kiai: Bukti Militansi Kaum Santri
Cuplik.Com - Jika anda masih belum memliki agenda apapun untuk mengisi akhir pekan ini, cobalah berkunjung ke bioskop terdekat. Jaringan bioskopTwenty One (21 dan XXI) sedang melakukan pemutaran film Sang Kiai.

Sejak kemarin, film yang disutradarai Rako Prijanto ini berada dalam daftar now playing jaringan bioskop terbesar di Indonesia itu. Film ini wajib dinikmati siapapun yang memiliki jiwa nasionalisme, terlebih paraNahdliyin. Bagaimana ceritanya?

Film yang diproduksi RAPI FILMS ini menceritakan sosok K.H. Hasyim Asyari, salah satu ulama besar yang pernah dilahirkan di Republik ini. Cerita bermula ketika Belanda tersingkir dari Nusantara oleh Jepang. Rakyat Indonesia menyadari, pendudukan Jepang tidak lebih baik dari Belanda. Bahkan, Jepang mewajibkan sekerei, yakni ritual ibadah dengan membungkuk pada matahari. K.H. Hasyim Asyari menolak dengan tegas, karena sekerei menyimpang dari aqidah Islam.

Karena sikap itulah, Jepang menangkap K.H. Hasyim Asyari. Penangkapan ini disikapi berbeda oleh santri dan putranya, Wahid Hasyim. Santri K.H. Hasyim Asyari yang bernama Harun memilih jalur kekerasan dengan mendatangi Jepang dan melakukan unjuk rasa berdarah. Sikap Harun ini menimbulkan korban di kalangan para santri. Sedangkan Wahid Hasyimmemilih jalur diplomasi, yang akhirnya mampu membebaskan Sang Kiai.

Jepang pun memaksa rakyat untuk melakukan gerakan tanam paksa. Mereka memaksa Masyumi, yang di dalamnya ada K.H. Hasyim Asyari, untuk menyebarkan seruan bercocok tanam ini kepada rakyat. Praktis, seruan bercocok tanam yang diperintah Jepang ini terselip hingga di khutbah-khutbah Jum'at. Tragisnya, setelah bercocok tanam, hasil panennya diserahkan kembali ke pihak Jepang, padahal rakyat juga sedang kekurangan pangan.

Harun melihat fenomena ini sebagai dukungan K.H. Hasyim Asyari terhadap Jepang. Sehingga ia memilih pergi dari pesantren. Setelahnya, Jepang kalah dari Sekutu, sehingga Indonesia diduduki Sekutu. Disinilah, Soekarno, selaku Presiden RI, meminta K.H. Hasyim Asyari untuk mempertahankan Republik. Permintaan itu disambut oleh beliau dengan mengerahkan para santrinya melakukan jihad.

Film yang dibintangi Ikranagara (Sang Kiai), Christine Hakim (Nyai Kapu), Agus Kuncoro (Wahid Hasyim), dan Adipati Dolken (Harun) ini mampu menggambarkan keluasan kebijaksanaan figur K.H. Hasyim Asyari. Sang Kiai ini, yang merupakan kakek dari almarhum Gus Dur, digambarkan dengan sangat baik dalam menempuh jalan tengah dalam kehidupan bernegara. Beliau tahu, kapan saat mengangkat senjata dan kapan pula saat melakukan diplomasi. Untuk itulah, sayang jika film ini dilewatkan begitu saja.[Doel/jan].

Suka ·  ·  ·  · Sabtu pukul 10:49

Tidak ada komentar:

Posting Komentar